<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	xmlns:georss="http://www.georss.org/georss" xmlns:geo="http://www.w3.org/2003/01/geo/wgs84_pos#" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/"
	>

<channel>
	<title>ALUSI</title>
	<atom:link href="http://alusi.wordpress.com/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://alusi.wordpress.com</link>
	<description>alusi...sebuah kilasan cahaya, terang tapi tidak menyilaukan</description>
	<lastBuildDate>Tue, 07 Apr 2009 05:50:07 +0000</lastBuildDate>
	<language>id</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
	<generator>http://wordpress.com/</generator>
<cloud domain='alusi.wordpress.com' port='80' path='/?rsscloud=notify' registerProcedure='' protocol='http-post' />
<image>
		<url>http://s2.wp.com/i/buttonw-com.png</url>
		<title>ALUSI</title>
		<link>http://alusi.wordpress.com</link>
	</image>
	<atom:link rel="search" type="application/opensearchdescription+xml" href="http://alusi.wordpress.com/osd.xml" title="ALUSI" />
	<atom:link rel='hub' href='http://alusi.wordpress.com/?pushpress=hub'/>
		<item>
		<title>Menghitung HAri</title>
		<link>http://alusi.wordpress.com/2009/04/07/menghitung-hari/</link>
		<comments>http://alusi.wordpress.com/2009/04/07/menghitung-hari/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 07 Apr 2009 05:50:07 +0000</pubDate>
		<dc:creator>alusi</dc:creator>
				<category><![CDATA[Umum]]></category>
		<category><![CDATA[pemilu]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://alusi.wordpress.com/2009/04/07/menghitung-hari/</guid>
		<description><![CDATA[Bukan sedang berdebar&#8230;tetapi gak sabar untuk nglewatin tanggal 9 nanti. Walaupun belum 100% yakin dengan pilihan tapi setidaknya gak milih kucing dalam karung lah&#8230;. Posted in Umum<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=alusi.wordpress.com&amp;blog=3437082&amp;post=26&amp;subd=alusi&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Bukan sedang berdebar&#8230;tetapi gak sabar untuk nglewatin tanggal 9 nanti.<br />
Walaupun belum 100% yakin dengan pilihan tapi setidaknya gak milih kucing dalam karung lah&#8230;.</p>
<br />Posted in Umum  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/alusi.wordpress.com/26/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/alusi.wordpress.com/26/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/alusi.wordpress.com/26/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/alusi.wordpress.com/26/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/alusi.wordpress.com/26/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/alusi.wordpress.com/26/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/alusi.wordpress.com/26/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/alusi.wordpress.com/26/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/alusi.wordpress.com/26/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/alusi.wordpress.com/26/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/alusi.wordpress.com/26/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/alusi.wordpress.com/26/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/alusi.wordpress.com/26/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/alusi.wordpress.com/26/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=alusi.wordpress.com&amp;blog=3437082&amp;post=26&amp;subd=alusi&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://alusi.wordpress.com/2009/04/07/menghitung-hari/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="" medium="image">
			<media:title type="html">alusi</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Devi Sudah Tiada</title>
		<link>http://alusi.wordpress.com/2009/02/24/devi-sudah-tiada/</link>
		<comments>http://alusi.wordpress.com/2009/02/24/devi-sudah-tiada/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 24 Feb 2009 03:36:22 +0000</pubDate>
		<dc:creator>alusi</dc:creator>
				<category><![CDATA[Sosial]]></category>
		<category><![CDATA[belas kasihan]]></category>
		<category><![CDATA[kemanusiaan]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://alusi.wordpress.com/2009/02/24/devi-sudah-tiada/</guid>
		<description><![CDATA[Devi sudah tiada. Ya&#8230;perempuan malang yang ditolak sebuah puskesmas hanya karena “tak beridentitas” itu akhirnya menghadap pencipta-Nya. Biarlah dia pergi ke tempat yang damai, jika hanya kekejaman dan ketakadilan yang dia dapatkan di tanah yang kata Koes Plus “orangnya ramah” itu. Saya hanya tercekat, ada pilu di dada ditambah dengan rasa malu menjadi bagian dari [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=alusi.wordpress.com&amp;blog=3437082&amp;post=21&amp;subd=alusi&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Devi sudah tiada.  Ya&#8230;perempuan malang yang ditolak sebuah puskesmas hanya karena “tak beridentitas” itu akhirnya menghadap pencipta-Nya.  Biarlah dia pergi ke tempat yang damai,  jika hanya kekejaman dan ketakadilan yang dia dapatkan di tanah yang kata Koes Plus “orangnya ramah” itu.  Saya hanya tercekat, ada pilu di dada ditambah dengan rasa malu menjadi bagian dari masyarakat yang hanya bisa menonton tanpa bisa membantu.</p>
<p>Devi, nama yang indah.  Seorang dewi, sebutan untuk penghuni swargaloka yang dikagumi karena kecantikan dan keanggunannya.  Devi seharusnya bertemu dan bercengkrama dengan handai taulan yang menyayangi dia, tapi sebuah kekuasaan menyeretnya, menginjaknya, mencabut semua kehormatan yang dibekalkan sang Tuhan ketika mengirimnya ke dunia.  Kekuasaan yang kejam, kekuasaan yang dikenakan di pundak layaknya pangkat. Kekuasaan yang sombong. Kekuasaan yang sesungguhnya senilai debu di telapak kaki Sang Maha Kuasa. Jika ini adalah cerminan masyarakat kita yang telah kehilangan nurani, bagaimana dengan orang-orang yang merawat Devi?  Dan jika gambaran hati bisa terpampang jelas di dada setiap orang, betapa saya ingin membacanya lewat orang-orang yang memperkosa, menyiksa dan merengut semua kehidupan Devi.  Hak istimewa apa yang diberikan Tuhan pada mereka untuk berlaku sekeji itu.  Mengapa kita tidak bisa memasangkan ‘berkuasa’ dengan ‘kebaikan?’ ‘Berkuasa’ dengan ‘dermawan’? ‘Berkuasa’ dengan ‘tidak sombong’?  mengapa berkuasa hanya dipasangkan dengan kekayaan? Dengan kegilaan? Dengan kekejaman?</p>
<p>Seorang dosen pernah curhat kepada saya, atau tepatnya kami, selaku mahasiswanya.  Kata beliau (kurang lebihnya)…”mengapa ada istilah binatang atau hidupan liar? Padahal justru hewan-hewan liar itulah yang paling punya aturan di muka bumi.  Dan manusia yang katanya beradab justru mahluk paling liar yang ada.  Di hutan, sang Singa si raja hutan hanya akan memangsa rusa ketika dia lapar, dan hewan-hewan predator di rantai makanan yang lebih rendah akan menunggu gilirannya dengan sabar.  Begitu si raja hutan kenyang dan meninggalkan sisa mangsanya, bergiliranlah karnivora-karnivora yang lebih kecil datang, hingga giliran yang paling akhir, yaitu detritus atau hewan pengurai.  Semuanya menunggu dan mendapat bagian dengan kesabaran, dan jasad si mangsa akhirnya kembali ke bumi, lalu siklus dimulai lagi.  Lalu gaya manusia? Yang katanya beradab dan lebih tinggi derajadnya dari binatang, yang membuat hukum dan menerapkannya? Manusia masih makan ketika dia sudah kenyang, bahkan setelah makan lagi pun manusia masih mencuri makanan orang lain”.</p>
<p>Orang yang menjahati Devi, orang-orang (dan instansi) yang menolak merawat Devi (padahal untuk itulah mereka dibayar) mungkin akan melanjutkan hidupnya dengan kemunafikan, sesekali berbicara kebenaran ketika diri mereka yang dihantam oleh ketidakadilan.  Media mungkin akan kembali mencari berita sensasional, menyiarkannya tanpa menyadari potensi pengulangan dari efek yang ditimbulkan.  Dan kami yang menangisi Devi juga akan kembali meneruskan hidup, larut dalam kisah hidup sendiri yang tidak kalah rumit dan penuh warna.   Berharap menjadi orang yang lebih baik dari hari ke hari dan berharap tidak ada lagi Devi lain.   Semoga.</p>
<br />Posted in Sosial  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/alusi.wordpress.com/21/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/alusi.wordpress.com/21/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/alusi.wordpress.com/21/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/alusi.wordpress.com/21/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/alusi.wordpress.com/21/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/alusi.wordpress.com/21/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/alusi.wordpress.com/21/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/alusi.wordpress.com/21/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/alusi.wordpress.com/21/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/alusi.wordpress.com/21/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/alusi.wordpress.com/21/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/alusi.wordpress.com/21/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/alusi.wordpress.com/21/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/alusi.wordpress.com/21/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=alusi.wordpress.com&amp;blog=3437082&amp;post=21&amp;subd=alusi&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://alusi.wordpress.com/2009/02/24/devi-sudah-tiada/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="" medium="image">
			<media:title type="html">alusi</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Sekedar Mengejek Atau Memang Ada Yang Salah Dengan Hati Anda?</title>
		<link>http://alusi.wordpress.com/2008/06/24/sekedar-mengejek-atau-memang-ada-yang-salah-dengan-hati-anda/</link>
		<comments>http://alusi.wordpress.com/2008/06/24/sekedar-mengejek-atau-memang-ada-yang-salah-dengan-hati-anda/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 24 Jun 2008 08:09:05 +0000</pubDate>
		<dc:creator>alusi</dc:creator>
				<category><![CDATA[Sikap Positif]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://alusi.wordpress.com/?p=19</guid>
		<description><![CDATA[Seorang rekan sukses dalam menggolkan sebuah proposal. Anda dan beberapa teman memujinya tapi seorang teman dengan nada melecehkan berkata&#8230;.” Ah itu cuma proyek kecil&#8230;siapapun bisa melakukannya!”. Atau seorang teman wanita berhasil memperoleh pacar, beberapa teman memberi selamat, tapi anda justru tersenyum sambil berkata&#8230;”hmmm&#8230;.kasihan amat si perempuan, pacarnya itu kan cuma seorang pegawai, bukan manajer&#8230;.!” Sebaliknya, [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=alusi.wordpress.com&amp;blog=3437082&amp;post=19&amp;subd=alusi&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="margin-bottom:5pt;margin-left:9pt;margin-right:89.25pt;"><span style="font-size:medium;color:#000000;font-family:Arial;"><span style="font-weight:bold;font-size:14pt;color:#000000;font-family:Arial;"><br />
</span></span><span style="font-size:x-small;color:#4b4b4b;font-family:Arial;"><span style="font-size:10pt;color:#4b4b4b;font-family:Arial;"><strong>Seorang rekan sukses dalam menggolkan sebuah proposal. Anda dan beberapa teman memujinya tapi seorang teman dengan nada melecehkan berkata&#8230;.” Ah itu cuma proyek kecil&#8230;siapapun bisa melakukannya!”. Atau seorang teman wanita berhasil memperoleh pacar, beberapa teman memberi selamat, tapi anda justru tersenyum sambil berkata&#8230;”hmmm&#8230;.kasihan amat si perempuan, pacarnya itu kan cuma seorang pegawai, bukan manajer&#8230;.!” Sebaliknya, ada kawan anda yang tertimpa kemalangan dalam perkawinannya, dan secara spontan anda berkata, dalam hati atau terang-terangan&#8230;”<em><span style="font-style:italic;">sukurin lu..makanya jangan sombong punya laki/bini cakep&#8230;.</span></em>!” </strong></span></span></p>
<p style="margin-bottom:5pt;margin-left:9pt;margin-right:89.25pt;"><span style="font-size:x-small;color:#4b4b4b;font-family:Arial;"><span style="font-size:10pt;color:#4b4b4b;font-family:Arial;"><strong>Mungkin kita tidak serta merta mengakuinya, akan tetapi sebenarnya seberapa sering <em><span style="font-style:italic;">sih</span></em> kita membuat pernyataan yang bernada melecehkan orang lain? Terutama terhadap orang-orang yang membuat kita merasa terancam. </strong></span></span></p>
<p style="margin-bottom:5pt;margin-left:9pt;margin-right:89.25pt;"><span style="font-size:x-small;color:#4b4b4b;font-family:Arial;"><span style="font-size:10pt;color:#4b4b4b;font-family:Arial;"><strong>Coba baca kalimat berikut</strong></span></span></p>
<p style="margin-bottom:5pt;margin-left:9pt;margin-right:89.25pt;"><em><span style="font-size:x-small;color:#4b4b4b;font-family:Arial;"><span style="font-weight:bold;font-size:10pt;color:#4b4b4b;font-style:italic;font-family:Arial;">“Jika kita kita sadar bahwa ternyata diam-diam kita senang akan kesialan orang lain (dan tidak senang akan kesuksesan orang lain), artinya kita punya tugas berat yang harus diselesaikan. Pesan dari perasaan itu pada dasarnya muncul karena kita merasa dikhianati oleh beberapa impian hidup kita yang tidak terpenuhi dan justru dicapai oleh orang lain”</span></span></em></p>
<p style="margin-bottom:5pt;margin-left:9pt;margin-right:89.25pt;"><span style="font-size:x-small;color:#4b4b4b;font-family:Arial;"><span style="font-size:10pt;color:#4b4b4b;font-family:Arial;"><strong>Ayo kita bahas sedikit kue kebijakan tersebut….<em></em></strong></span></span></p>
<p style="margin-bottom:5pt;margin-left:9pt;margin-right:89.25pt;"><span style="font-size:x-small;color:#4b4b4b;font-family:Arial;"><span style="font-weight:bold;font-size:10pt;color:#4b4b4b;font-family:Arial;">Pada dasarnya kita cenderung senang kalau ada orang lain yang kita kenal <em><span style="font-style:italic;">ketiban</span></em> sial &#8211; </span></span><span style="color:#4b4b4b;font-family:Arial;"><span style="color:#4b4b4b;font-family:Arial;"><strong>Ayo jujur. Itu terjadi pada anda bukan? Secara alami kita dituntun oleh naluri. Dan itu bahkan bukan suatu kesalahan. Tapi jangan sengaja membiarkan hal itu <em><span style="font-style:italic;">dong</span></em>, karena banyak yang perlu diubah.</strong></span></span></p>
<p style="margin-bottom:5pt;margin-left:9pt;margin-right:89.25pt;"><span style="font-size:x-small;color:#4b4b4b;font-family:Arial;"><span style="font-weight:bold;font-size:10pt;color:#4b4b4b;font-family:Arial;">1. Ada ”pekerjaan rumah” untuk anda</span></span></p>
<p style="margin-bottom:5pt;margin-left:9pt;margin-right:89.25pt;"><span style="font-size:x-small;color:#4b4b4b;font-family:Arial;"><span style="font-size:10pt;color:#4b4b4b;font-family:Arial;"><strong>Kapanpun anda merasa muak dengan seseorang, itu menunjukkan kita punya masalah pada <span style="text-decoration:underline;"><span style="font-weight:bold;">Hati</span></span> kita, secara umum maupun khusus. Secara khusus adalah dengan orang yang membuat kita tidak nyaman, dan secara umum karena kita <span style="text-decoration:underline;">berpotensi</span> memunculkan perasaan itu kepada orang lain di waktu-waktu mendatang. </strong></span></span></p>
<p style="margin-bottom:5pt;margin-left:9pt;margin-right:89.25pt;"><span style="font-size:x-small;color:#4b4b4b;font-family:Arial;"><span style="font-weight:bold;font-size:10pt;color:#4b4b4b;font-family:Arial;">2. Kesadaran</span></span></p>
<p style="margin-bottom:5pt;margin-left:9pt;margin-right:89.25pt;"><span style="font-size:x-small;color:#4b4b4b;font-family:Arial;"><span style="font-size:10pt;color:#4b4b4b;font-family:Arial;"><strong>Halangan terbesar jika ingin memperbaiki diri adalah tidak adanya kesadaran. Jikapun kita cukup sadar terhadap sebuah masalah, maka satu-satunya hal yang menghalangi adalah kurangnya <span style="text-decoration:underline;">keinginan (di pikiran)</span> untuk mengerjakan apa yang seharusnya kita lakukan. Singkatnya, kalau memang kita sadar akan sesuatu maka harus disertai dengan tindakan nyata dengan cara:</strong></span></span></p>
<p style="margin-bottom:5pt;margin-left:9pt;margin-right:89.25pt;"><span style="font-size:x-small;color:#4b4b4b;font-family:Arial;"><span style="font-weight:bold;font-size:10pt;color:#4b4b4b;font-family:Arial;">3. Berlatih menumbuhkan rasa tulus </span></span></p>
<p style="margin-bottom:5pt;margin-left:9pt;margin-right:89.25pt;"><span style="font-size:x-small;color:#4b4b4b;font-family:Arial;"><span style="font-size:10pt;color:#4b4b4b;font-family:Arial;"><strong>Mulai merubah perilaku buruk dengan yang baik adalah kunci untuk sebuah perombakan sikap. Contohnya adalah orang-orang yang ingin berhenti merokok, biasanya yang lebih berhasil adalah yang mengganti kebiasaan itu dengan latihan fisik yang bersifat menghasilkan <span style="text-decoration:underline;">hormon endorfin</span>-yaitu hormon yang berperan dalam munculnya perasaan senang yang juga berdampak pada rasa percaya diri. Hal yang sama dengan keinginan untuk berhenti berkata buruk atau ataupun tidak suka terhadap orang lain, caranya adalah berlatih memunculkan rasa tulus. Ketulusan hati punya nilai spiritual yaitu “pembebasan” dan dengan berlatihnya saja membuat kita jadi orang yang lebih baik. Melatih ketulusan akan memunculkan satu sifat baik lagi, yaitu: </strong></span></span></p>
<p style="margin-bottom:5pt;margin-left:9pt;margin-right:89.25pt;"><span style="font-size:x-small;color:#4b4b4b;font-family:Arial;"><span style="font-weight:bold;font-size:10pt;color:#4b4b4b;font-family:Arial;">4. Tidak suka memuji diri alias rendah hati</span></span></p>
<p style="margin-bottom:5pt;margin-left:9pt;margin-right:89.25pt;"><span style="font-size:x-small;color:#4b4b4b;font-family:Arial;"><span style="font-size:10pt;color:#4b4b4b;font-family:Arial;"><strong>Nampaknya kita selalu ingin diberi pujian atas pikiran dan perbuatan baik yang kita lakukan. Dan kalau kita sudah berhasil mengganti perasaan tidak suka dengan ketulusan, maka kita cenderung akan mengumbarnya ke orang-orang dengan harapan mendapat pujian. Akan tetapi tindakan yang paling tepat sebenarnya adalah sama sekali tidak berkomentar-biarkan berjalan apa adanya. Lawanlah ego untuk mendapat pujian itu. </strong></span></span></p>
<p style="margin-bottom:5pt;margin-left:9pt;margin-right:89.25pt;"><span style="font-size:x-small;color:#4b4b4b;font-family:Arial;"><span style="font-size:10pt;color:#4b4b4b;font-family:Arial;"><strong>Apa tandanya kalau kita sudah melakukan hal yang benar? Satu saja, yaitu <span style="text-decoration:underline;">merasa bersalah </span>karena tidak menyukai seseorang. Sekali kesadaran itu muncul, kita akan segera memutuskan untuk tidak melukai hati orang lain. </strong></span></span></p>
<p style="margin-bottom:5pt;margin-left:9pt;margin-right:89.25pt;"><span style="font-size:x-small;color:#4b4b4b;font-family:Arial;"><span style="font-size:10pt;color:#4b4b4b;font-family:Arial;"><strong>Akan banyak orang yang mengatakan ini adalah sebuah mimpi atau khayalan atau idealisme tapi di sisi lain mereka sesungguhnya tidak dapat menunjukkan alasan kenapa hal tersebut tidak bisa dijadikan salah satu tujuan utama hidup kita. </strong></span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom:0;margin-left:9pt;margin-right:89.25pt;"><strong><span style="font-size:xx-small;font-family:Arial;"><span style="font-size:9pt;font-family:Arial;">Disarikan dari tulisan <span style="font-weight:bold;"><a title="http://ezinearticles.com/?expert=Steve_Wickham" href="http://ezinearticles.com/?expert=Steve_Wickham"><span style="color:#000000;"><span style="color:#000000;text-decoration:none;">Steve Wickham</span></span></a>:</span> <span style="color:#000000;"><span style="font-weight:bold;color:#000000;">Resisting Speaking Or Thinking Negatively of People (http://ezinearticles.com)</span></span></span></span></strong></p>
<br /><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/categories/alusi.wordpress.com/19/" /> <img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/tags/alusi.wordpress.com/19/" /> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/alusi.wordpress.com/19/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/alusi.wordpress.com/19/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/alusi.wordpress.com/19/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/alusi.wordpress.com/19/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/alusi.wordpress.com/19/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/alusi.wordpress.com/19/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/alusi.wordpress.com/19/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/alusi.wordpress.com/19/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/alusi.wordpress.com/19/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/alusi.wordpress.com/19/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/alusi.wordpress.com/19/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/alusi.wordpress.com/19/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/alusi.wordpress.com/19/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/alusi.wordpress.com/19/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=alusi.wordpress.com&amp;blog=3437082&amp;post=19&amp;subd=alusi&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://alusi.wordpress.com/2008/06/24/sekedar-mengejek-atau-memang-ada-yang-salah-dengan-hati-anda/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="" medium="image">
			<media:title type="html">alusi</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>KEDEWASAAN DI JALAN RAYA</title>
		<link>http://alusi.wordpress.com/2008/06/20/kedewasaan-di-jalan-raya/</link>
		<comments>http://alusi.wordpress.com/2008/06/20/kedewasaan-di-jalan-raya/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 20 Jun 2008 05:19:37 +0000</pubDate>
		<dc:creator>alusi</dc:creator>
				<category><![CDATA[Psikologi]]></category>
		<category><![CDATA[denpasar]]></category>
		<category><![CDATA[lalu lintas]]></category>
		<category><![CDATA[motor]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://alusi.wordpress.com/?p=17</guid>
		<description><![CDATA[Saya kurang tahu apa yang terjadi di daerah lain, tapi di Denpasar (dan mungkin di Bali) saat ini perilaku pengemudi motornya sangat mengkhawatirkan, khususnya pengemudi remaja.  Dari menyeberangkan motor seenak udelnya,  ngebut seenaknya juga,  parkir sembarangan, menerobos lampu merah sampai mengemudikan motor sambil ber-sms&#8230;.. Bayangkan&#8230;.anda sedang mengemudi (motor atau mobil) dengan santai di jalur yang [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=alusi.wordpress.com&amp;blog=3437082&amp;post=17&amp;subd=alusi&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Saya kurang tahu apa yang terjadi di daerah lain, tapi di Denpasar (dan mungkin di Bali) saat ini perilaku pengemudi motornya sangat mengkhawatirkan, khususnya pengemudi remaja.  Dari menyeberangkan motor seenak udelnya,  ngebut seenaknya juga,  parkir sembarangan, menerobos lampu merah sampai mengemudikan motor sambil ber-sms&#8230;..</p>
<p>Bayangkan&#8230;.anda sedang mengemudi (motor atau mobil) dengan santai di jalur yang seharusnya, lalu tiba-tiba menyeruak sebuah motor dari sebelah kiri menyilang ke kanan di depan kendaraan anda hanya untuk kemudian berbelok ke kiri di perempatan depan.  Apa gunanya?</p>
<p>Berdasarkan data dari Humas Polda Bali (www.saradbali.com),  Tahun 2004, jumlah laka lantas di pulau mungil ini tercatat 429 kasus. Dari angka tersebut, korban sekitar 800-an jiwa atau 26 persen termasuk golongan remaja, usia 16-21 tahun. Sedangkan nyawa manusia yang terenggut 426 jiwa. Dua tahun berikutnya (2006), angka kecelakaan lalu lintas (laka lantas) meningkat hampir 3 kali lipat, menjadi 1.154 kasus. Jumlah korban hampir 3.000 jiwa. Lebih memprihatinkan lagi justru karena 30 persen di antara korbannya adalah kalangan anak muda. Sebanyak 500 nyawa melayang sia-sia.<br />
Hingga akhir Mei 2007, kejadian laka lantas tembus pada kisaran 594 kasus, dengan jumlah korban 1.200-an jiwa, 316 di antaranya meninggal dunia atau rata-rata dua nyawa melayang tiap hari. Sisanya mengalami luka berat dan luka ringan.</p>
<p>Sering kali saya melihat (atau mengalami), ketika seorang pemakai jalan hendak menyeberang, bukannya memperlambat tapi kendaraan, termasuk mobil apalagi motor justru makin mempercepat laju dan tidak memberikan kesempatan untuk menyeberang.  Gila, padahal melambat sedikit tidak akan membuat mereka kehilangan besar.  Kadang-kadang saya bertanya, apakah orang-orang ini adalah para superhero yang sedang berpacu dengan waktu untuk menyelamatkan dunia?&#8230;Hmmm&#8230;sepertinya tidak juga.   Para remaja atau pemuda dengan seenaknya membelokkan motor tanpa peduli kendaraan yang melaju di jalur yang berlawanan dan jika diberikan klakson tanda protes justru akan melototkan mata, menjulurkan kepala dan membusungkan dada tanda menantang&#8230;&#8221;apa lu?&#8221;&#8230;begitu kira-kira pesan yang ingin disampaikan.</p>
<p>KEmajuan di bidang ekonomi yang semakin pesat berperan dalam mengarahkan pola pikir konsumtif di segala usia.  Banyak remaja yang belum cukup umur tapi sudah meminta dibelikan motor (atau mobil) oleh orang tuanya hanya karena melihat kawannya memiliki motor baru.  BUkan hanya itu, begitu mudahnya remaja-remaja yang notabene masih berusia di bawah standar bisa memperoleh surat ijin mengemudi.  Alhasil, istilah saya&#8230;kemampuan membeli motor (walaupun yang membeli adalah orangtua) tidak sejalan dengan kemampuan berkendaraan yang baik.  Ya&#8230;tentu saja..bagaimana mungkin anak yang masih meletup-letup bisa memahami aturan dan berempati kepada para pengguna lain.  JIka melihat data di atas maka cukup signifikan hubungan antara kasus kecelakaan dengan tingkat kematangan mental pengemudinya (umur).  Walaupun demikian banyak juga pengemudi dewasa dengan kelakuan yang sangat minus, mulai dari membunyikan klakson begitu lampu berubah hijau (dari merah), keluar dari jalan kecil tanpa mempedulikan kendaraan yang melaju sampai ngebut sengebut-ngebutnya termasuk tidak memberikan ruang bagi penyeberang jalan.  Aduh&#8230;aduh&#8230;</p>
<p>Beberapa minggu lalu, koran lokal memberitakan sebuah kecelakaan yang menewaskan seorang nenek yang ditabrak motor yang dikendarai oleh seorang remaja putri.  Yang mengejutkan lagi, ketika kecelakaan itu terjadi sang gadis mengendarai motor berkecepatan tinggi sambil tangannya memencet-mencet tuts telpon genggamnya.  Dia mengirimkan sms sambil mengendarai motor.  Nenek itu berusia 60-an dan gadis itu masih 16 tahun, menderita patah tulang kaki.</p>
<p>Saya tidak habis pikir, apakah ini adalah sebuah trend baru?  Tapi kenapa trend itu begitu bodoh dan konyol.  Siapa yang pertama kali &#8220;memperkenalkannya&#8221;?&#8230;Lalu di mana pak polisi kita&#8230;bagaimana dengan penyuluhan di sekolah-sekolah</p>
<p>Kota Denpasar atau Bali secara global termasuk salah satu yang paling awal menerapkan peraturan menggunakan helm standar (minimal half face) dan itu diikuti dengan patuh oleh warganya.  Akan tetapi saat ini, helm hanya dipakai jika berkendara di jalan utama.  Anda akan dengan mudah melihat orang-orang tanpa helm berseliweran di jalan-jalan kecil, walaupun tetap itu jalan yang ramai dilalui dan mereka mengendarai dengan kecepatan tinggi.  Saya pikir pihak yang terkait (pemerintah dan kepolisian) sedikit lengah dan kelengahan yang sedetik ternyata melahirkan begitu banyak pelanggar.   Selain itu pihak orang tua sangat berperan dalam mengarahkan si anak.   Tanamkan sejak dini bahwa jalan raya bukan hutan rimba di mana tidak ada aturan dan penghargaan terhadap sesama manusia.  Kalaupun si anak sudah terlanjur bisa mengendarai motor (hasil latihan sembunyi-sembunyi) terapkan peraturan yang ketat bahwa hanya bisa memakai motor di lingkungan rumah dan ditemani oleh orang tua.  Kedengarannya kuno ya&#8230;tapi yakinlah itu berhasil untuk saya dan adik-adik.</p>
<p>Salam&#8230;.</p>
<br /><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/categories/alusi.wordpress.com/17/" /> <img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/tags/alusi.wordpress.com/17/" /> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/alusi.wordpress.com/17/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/alusi.wordpress.com/17/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/alusi.wordpress.com/17/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/alusi.wordpress.com/17/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/alusi.wordpress.com/17/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/alusi.wordpress.com/17/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/alusi.wordpress.com/17/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/alusi.wordpress.com/17/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/alusi.wordpress.com/17/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/alusi.wordpress.com/17/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/alusi.wordpress.com/17/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/alusi.wordpress.com/17/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/alusi.wordpress.com/17/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/alusi.wordpress.com/17/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=alusi.wordpress.com&amp;blog=3437082&amp;post=17&amp;subd=alusi&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://alusi.wordpress.com/2008/06/20/kedewasaan-di-jalan-raya/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="" medium="image">
			<media:title type="html">alusi</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>RUANG PERSONAL</title>
		<link>http://alusi.wordpress.com/2008/06/20/ruang-personal/</link>
		<comments>http://alusi.wordpress.com/2008/06/20/ruang-personal/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 19 Jun 2008 20:02:46 +0000</pubDate>
		<dc:creator>alusi</dc:creator>
				<category><![CDATA[Psikologi]]></category>
		<category><![CDATA[Jaga Jarak]]></category>
		<category><![CDATA[Nyaman]]></category>
		<category><![CDATA[Pagar]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://alusi.wordpress.com/?p=14</guid>
		<description><![CDATA[  Pernah merasa canggung karena orang yang baru anda kenal berdiri terlalu dekat dengan anda?  Tetapi mengapa orang tersebut tidak secanggung anda?  Atau berpapasan dengan sepasang muda muda yang saling tersenyum sambil berpegangan tangan?  Apa kesimpulan anda? Ya…semua itu bukan terjadi secara kebetulan, akan tetapi dapat kita bahas kok dengan jelas.  Kira-kira begini&#8230; Pada dasarnya [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=alusi.wordpress.com&amp;blog=3437082&amp;post=14&amp;subd=alusi&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p class="MsoNormal" style="margin:0 0 6pt;"> </p>
<p class="MsoNormal" style="margin:0 0 6pt;"><span style="font-size:small;font-family:Times New Roman;">Pernah merasa canggung karena orang yang baru anda kenal berdiri terlalu dekat dengan anda?<span>  </span>Tetapi mengapa orang tersebut tidak secanggung anda?<span>  </span>Atau berpapasan dengan sepasang muda muda yang saling tersenyum sambil berpegangan tangan?<span>  </span>Apa kesimpulan anda? </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin:0 0 6pt;"><span lang="FI"><span style="font-size:small;"><span style="font-family:Times New Roman;">Ya…semua itu bukan terjadi secara kebetulan, akan tetapi dapat kita bahas kok dengan jelas.<span>  </span>Kira-kira begini&#8230;</span></span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin:0 0 6pt;"><span style="font-size:small;"><span style="font-family:Times New Roman;"><span lang="FI">Pada dasarnya kita memasang sebuah ”pagar” yang secara imajiner mengelilingi kita di mana kita tidak akan membiarkan orang asing untuk melewati batas pagar tersebut.<span>  </span></span>Inilah yang oleh para psikolog disebut dengan Ruang Personal (Personal Space) atau selanjutnya kita singkat menjadi RP.<span>  </span>Tidak sesederhana itu, RP bukan sebuah batas yang kaku, dia akan bertambah atau berkurang sesuai dengan kedekatan kita dengan obyek (baca orang) di luar kita.<span>  </span>Eksistensi RP juga melibatkan adanya interaksi sosial dan keterikatan.<span>  </span>Sehingga pada akhirnya RP itu bukanlah sebuah pagar akan tetap lebih merupakan perpaduan dari jarak dan orientasi antar individu ketika berinteraksi.<span>  </span></span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin:0 0 6pt;"><span style="font-size:small;font-family:Times New Roman;">Masih bingung? Ok mari kita bahas lebih jauh</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin:0 0 6pt;"><span style="font-size:small;font-family:Times New Roman;">Kembali ke contoh di atas,<span>  </span>kita akan memasang jarak yang cukup jauh ketika baru pertama berkenalan, khususnya perempuan dengan laki-laki.<span>  </span>Juga cara kita memandang dan pengambilan sudut pandang akan berbeda dibandingkan jika bercakap dengan kawan akrab.<span>  </span>Nah, sesungguhnya kita menerapkan yang namanya RP itu.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin:0 0 6pt;"><span style="font-size:small;font-family:Times New Roman;">Edwad Hall, seorang peneliti di bidang ruang personal, membagi jarak antar personal ke dalam 8 bagian.<span>  </span>Menurutnya terjadi gradasi jarak berdasarkan tingkat keakraban antar personal.<span>  </span>Kedelapan jarak tersebut dikelompokkan ke dalam empat jarak utama, yaitu:</span></p>
<ol style="margin-top:0;" type="1">
<li class="MsoNormal"><span style="font-size:small;font-family:Times New Roman;">Jarak Intim</span>
<ol style="margin-top:0;" type="a">
<li class="MsoNormal"><span style="font-size:small;font-family:Times New Roman;">Jarak Intim Dekat (0-6 inchi atau 0-15 cm), yaitu jarak yang muncul pada kondisi memeluk, menenangkan, percintaan, pergulatan (olahraga) atau kontak penuh dengan orang lain.<span>  </span>Orang-orang tidak hanya berinteraksi pada situasi intim, atau melakukan kegiatan berdasarkan peraturan (gulat), tapi juga bisa terjadi pada kondisi emosi negatif (mis: manajer bola basket yang bertengkar dengan wasit).</span></li>
<li class="MsoNormal"><span style="font-size:small;font-family:Times New Roman;">Jarak Intimm Jauh (6-18 inc atau 15-45 cm), mewakili hubungan yang cukup erat, misalnya seseorang yang membisikan sesuatu ke temannya, </span></li>
</ol>
</li>
<li class="MsoNormal"><span style="font-size:small;font-family:Times New Roman;">Jarak Personal</span>
<ol style="margin-top:0;" type="a">
<li class="MsoNormal"><span style="font-size:small;font-family:Times New Roman;">Jarak Personal Dekat (18-30 inc atau 45-75 cm), yang berlaku bagi orang-orang yang saling mengenal satu sama lain dalam konteks yang positif.<span>  </span>Biasanya diwakili oleh orang yang saling berteman atau pasangan yang sedang berbahagia.</span></li>
<li class="MsoNormal"><span style="font-size:small;font-family:Times New Roman;">Jarak Personal Jauh (75 cm-1,2 m),<span>  </span>adalah jarak yang digunakan oleh orang-orang yang berteman tapi tidak saling akrab.<span>  </span>Biasanya jika kita menjumpai dua orang yang bercakap pada jarak ini maka hampir bisa dipastikan bahwa mereka adalah berteman tapi tidak saling akrab, </span></li>
</ol>
</li>
<li class="MsoNormal"><span style="font-size:small;font-family:Times New Roman;">Jarak Sosial</span>
<ol style="margin-top:0;" type="a">
<li class="MsoNormal"><span lang="FI"><span style="font-size:small;"><span style="font-family:Times New Roman;">Jarak Sosial Dekat (1,2 – 2 m), terjadi pada situasi ketika kita diperkenalkan kepada kawan ibu kita ketika bertemu di super market,</span></span></span></li>
<li class="MsoNormal"><span lang="FI"><span style="font-size:small;"><span style="font-family:Times New Roman;">Jarak Sosial Jauh (2-3,5 m), umumnya terjadi ketika melakukan transaksi bisnis resmi.<span>  </span>Pada situasi ini sangat kecil atau sama sekali tidak ada suasana pertemanan, karena biasanya masing-masing perusahaan mengutus wakil untuk berinteraksi, </span></span></span></li>
</ol>
</li>
<li class="MsoNormal"><span style="font-size:small;font-family:Times New Roman;">Jarak Publik</span>
<ol style="margin-top:0;" type="a">
<li class="MsoNormal"><span style="font-size:small;font-family:Times New Roman;">Jarak Publik Dekat (3,5-7 m), biasanya digunakan oleh seorang dosen yang mengajar kelas theater yang terdiri dari ratusan murid di mana jika berbicara harus dari jarak yang tepat sehingga suaranya terdengar di seluruh penjuru ruangan.<span>  </span>Jika kita<span>  </span>berbicara kepada 30-40 orang, kira-kira jarak inilah yang umum kita pakai agar suara kita bisa terdengar jelas oleh masing-masing orang,</span></li>
<li class="MsoNormal"><span style="font-size:small;"><span style="font-family:Times New Roman;">Jarak Publik Jauh (7 m atau lebih), biasanya jarak yang disediakan jika ada interaksi masyarakat umum dengan seorang tokoh penting.<span>  </span><span lang="FI">Akan tetapi jika tokoh itu ingin bercakap maka umumnya dia akan mendekat. <span> </span></span></span></span></li>
</ol>
</li>
</ol>
<p class="MsoNormal" style="margin:0 0 6pt;"><span lang="FI"><span style="font-size:small;"><span style="font-family:Times New Roman;">Nah, sudah makin jelas kan? Mengapa kita sangat nyaman berdekatan dengan ibu, bapak, saudara, suami atau istri.<span>  </span>Sedangkan secara tidak sadar kita akan menjaga jarak ketika berkenalan dengan seseorang (walaupun jarak itu bisa berkurang atau bertambah tergantung hasil interaksi kita selanjutnya).</span></span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin:0 0 6pt;"><span lang="FI"><span style="font-size:small;"><span style="font-family:Times New Roman;">Terakhir (untuk kesempatan ini) ternyata ada beberapa unsur yang mempengaruhi jarak RP seseorang, yaitu:</span></span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin:0 0 6pt;"><span lang="FI"><span style="font-size:small;"><span style="font-family:Times New Roman;">1.  Jenis Kelamin</span></span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin:0 0 6pt;"><span style="font-size:small;"><span lang="FI"><span style="font-family:Times New Roman;">Umumnya laki-laki memiliki ruang yang lebih besar, walaupun demikian faktor jenis kelamin bukanlah faktor yang berdiri sendiri,</span></span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin:0 0 6pt;"><span lang="FI"><span style="font-size:small;"><span style="font-family:Times New Roman;">2.  Umur</span></span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin:0 0 6pt;"><span lang="FI"><span style="font-size:small;"><span style="font-family:Times New Roman;">Makin bertambah usia seseorang, makin besar ruang personalnya, ini ada<span>  </span>kaitannya dengan kemandirian.<span>  </span>Pada saat bayi, hampir tidak ada kemampuan untuk menetapkan jarak karena tingkat ketergantungan yang makin tinggi.<span>  </span>Pada usia 18 bulan, bayi sudah mulai bisa memutuskan ruang personalnya tergantung pada orang dan situasi.<span>  </span>Ketika berumur 12 tahun, seorang anak sudah menerapkan RP seperti yang dilakukan orang dewasa. </span></span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin:0 0 6pt;"><span lang="FI"><span style="font-size:small;"><span style="font-family:Times New Roman;">3.  Kepribadian,</span></span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin:0 0 6pt;"><span style="font-size:small;"><span style="font-family:Times New Roman;"><span lang="FI">Orang-orang yang berkepribadian terbuka, ramah atau cepat akrab biasanya memiliki RP yang lebih kecil.<span>  </span></span>Demikian halnya dengan orang-orang yang lebih mandiri lebih memilih ruang personal yang lebih kecil.<span>  </span>Sebaliknya si pencemas akan lebih mengambil jarak dengan orang lain, demikian halnya dengan orang yang bersifat kompetitif dan terburu-buru. </span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin:0 0 6pt;"><span lang="FI"><span style="font-size:small;"><span style="font-family:Times New Roman;">4.  Gangguan Psikologi atau Kekerasan</span></span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin:0 0 6pt;"><span lang="FI"><span style="font-size:small;"><span style="font-family:Times New Roman;">Orang yang mempunyai masalah kejiwaan punya aturan sendiri tentang RP ini.<span>  </span>Sebuah penelitian pada pengidap skizoprenia memperlihatkan bahwa kadang-kadang mereka membuat jarak yang besar dengan orang lain, tetapi di saat lain justru menjadi sangat dekat</span></span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin:0 0 6pt;"><span lang="FI"><span style="font-size:small;"><span style="font-family:Times New Roman;">5.  K</span></span></span><span lang="FI"><span style="font-size:small;"><span style="font-family:Times New Roman;">ondisi Kecacatan</span></span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin:0 0 6pt;"><span lang="FI"><span style="font-size:small;"><span style="font-family:Times New Roman;">Beberapa penelitian memperlihatkan adanya hubungan antara kondisi kecatatan dengan RP yang diterapkan.<span>  </span>Beberapa anak autis memilih jarak lebih dekat ke orang tuanya, sedangkan anak-anak dengan tipe autis tidak aktif, anak hiperaktif dan terbelakang mental memilih untuk menjaga jarak dengan orang dewasa.</span></span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin:0 0 6pt;"><span lang="FI"><span style="font-size:small;"><span style="font-family:Times New Roman;">6.  Ketertarikan</span></span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin:0 0 6pt;"><span style="font-size:small;"><span style="font-family:Times New Roman;"><span lang="FI">Ketertarikan, keakraban dan persahabatan membawa pada kondisi perasaan positif dan negatif antara satu orang dengan orang lain.<span>  </span>Namun yang paling umum adalah kita biasanya akan mendekati sesuatu jika tertarik.<span>  </span></span>Dua sahabat akan berdiri pada jarak yang berdekatan dibanding dua orang yang saling asing. <span> </span>Sepasang suami istri akan duduk saling berdekatan dibanding sepasang laki-laki dan perempuan yang kebetulan menduduki bangku yang sama di sebuah taman.</span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin:0 0 6pt;"><span lang="FI"><span style="font-size:small;"><span style="font-family:Times New Roman;">7.  Rasa Aman/Ketakutan</span></span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin:0 0 6pt;"><span lang="FI"><span style="font-size:small;"><span style="font-family:Times New Roman;">Kita tidak keberatan berdekatan dengan seseorang jika merasa aman dan sebaliknya.<span>  </span>Kadang ketakutan tersebut berasal dari stigma yang salah pada pihak-pihak tertentu,misalnya kita sering kali menjauh ketika berpapasan dengan orang cacat, atau orang yang terbelakang mental atau bahkan orang gemuk.<span>  </span>Mungkin rasa tidak nyaman tersebut muncul karena faktor ketidakbiasaan dan adanya sesuatu yang berbeda.<span>  </span></span></span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin:0 0 6pt;"><span lang="FI"><span style="font-size:small;"><span style="font-family:Times New Roman;">8.  Persaingan/Kerjasama</span></span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin:0 0 6pt;"><span lang="FI"><span style="font-size:small;"><span style="font-family:Times New Roman;">Pada situasi berkompetisi, orang cenderung mengambil posisi saling berhadapan, sedangkan pada kondisi bekerjasama kita cenderung mengambil posisi saling bersisian.<span>  </span>Tapi bisa juga sebaliknya, sepasang kekasih akan duduk berhadapan di ketika makan di restoran yang romantis,sedangkan dua orang pria yang duduk berdampingan di meja bar justru dalam kondisi saling bersaing mendapatkan perhatian seorang wanita yang baru masuk.</span></span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin:0 0 6pt;"><span lang="FI"><span style="font-size:small;"><span style="font-family:Times New Roman;">9.  Kekuasaan dan Status</span></span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin:0 0 6pt;"><span style="font-size:small;font-family:Times New Roman;">Makin besar perbedaan status makin besar pula jarak antar personalnya.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin:0 0 6pt;"><span lang="FI"><span style="font-size:small;"><span style="font-family:Times New Roman;">10.  Pengaruh Lingkungan Fisik</span></span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin:0 0 6pt;"><span style="font-size:small;"><span style="font-family:Times New Roman;">Ruang personal juga dipengaruhi oleh kondisi lingkungan fisik.<span>  </span>Di ruang dengan cahaya redup orang akan nyaman jika posisinya lebih berdekatan, demikian halnya bila ruangannya sempit atau kecil.<span>  </span>Orang juga cenderung memilih duduk di bagian sudut daripada di tengah ruangan.<span>  </span></span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin:0 0 6pt;"><span lang="FI"><span style="font-size:small;"><span style="font-family:Times New Roman;">11.  Dan beberapa variasi lain seperti budaya, religi dan suku/etnis</span></span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin:0 0 6pt;"><span style="font-size:small;font-family:Times New Roman;">Disarikan dari: Environmental Psychology, Principles and Practices (Robert Gifford, 1997)</span></p>
<br /><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/categories/alusi.wordpress.com/14/" /> <img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/tags/alusi.wordpress.com/14/" /> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/alusi.wordpress.com/14/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/alusi.wordpress.com/14/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/alusi.wordpress.com/14/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/alusi.wordpress.com/14/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/alusi.wordpress.com/14/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/alusi.wordpress.com/14/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/alusi.wordpress.com/14/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/alusi.wordpress.com/14/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/alusi.wordpress.com/14/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/alusi.wordpress.com/14/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/alusi.wordpress.com/14/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/alusi.wordpress.com/14/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/alusi.wordpress.com/14/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/alusi.wordpress.com/14/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=alusi.wordpress.com&amp;blog=3437082&amp;post=14&amp;subd=alusi&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://alusi.wordpress.com/2008/06/20/ruang-personal/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>2</slash:comments>
	
		<media:content url="" medium="image">
			<media:title type="html">alusi</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Mengapa kita malas membaca?</title>
		<link>http://alusi.wordpress.com/2008/04/10/mengapa-kita-malas-membaca/</link>
		<comments>http://alusi.wordpress.com/2008/04/10/mengapa-kita-malas-membaca/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 10 Apr 2008 09:31:32 +0000</pubDate>
		<dc:creator>alusi</dc:creator>
				<category><![CDATA[Umum]]></category>
		<category><![CDATA[Minat Baca]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://alusi.wordpress.com/?p=4</guid>
		<description><![CDATA[Umumnya orang-orang kita jika sedang antri di bank, dokter, duduk di bus atau menunggu giliran apa lah, yang dilakukan adalah duduk diam, kadang-kadang melamun atau mengawasi orang lain.  dan justru itu&#8230;jarang yang mengisi waktu dengan membaca. Saya sendiri sangat senang membaca, malahan termasuk kutu buku.   Dalam sehari saya pasti menyempatkan diri membaca, walaupun cuma 10 [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=alusi.wordpress.com&amp;blog=3437082&amp;post=4&amp;subd=alusi&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Umumnya orang-orang kita jika sedang antri di bank, dokter, duduk di bus atau menunggu giliran apa lah, yang dilakukan adalah duduk diam, kadang-kadang melamun atau mengawasi orang lain.  dan justru itu&#8230;jarang yang mengisi waktu dengan membaca.</p>
<p>Saya sendiri sangat senang membaca, malahan termasuk kutu buku.   Dalam sehari saya pasti menyempatkan diri membaca, walaupun cuma 10 atau 15 menit mengingat urusan rumah tangga yang kudu didahulukan.</p>
<p>Banyak yang bilang, salah satu hal yang menghalangi minat baca orang-orang kita adalah mahalnya harga buku.  Menurut saya itu relatif.  Banyak orang yang bisa membeli rokok, membeli pulsa, jajan dan lain-lain, tapi itu dia, kok ya membeli buku atau majalah saja bilang tidak bisa.</p>
<p>Ketika saya merapikan barisan buku di perpustakaan kecil saya tiba-tiba sebuah pikiran terlintas di benak saya.  Sebuah hipotesis.  DAn untuk membuktikannya, saya lalu mengambil sebuah buku karangan Paulo Choello-Eleven Minutes dan karangan PEarl S Buck-Bumi Yang Subur.  Keduanya punya ukuran yang hampir sama akan tetapi look&#8230;..ternyata Eleven Minutes lebih ringan dibanding Bumi Yang Subur.  Para pembaca&#8230;hipotesis saya adalah buku terbitan luar negeri (dan tentu saja dicetak di luar) lebih ringan dibanding cetakan dalam negeri.  Karena lebih ringan, maka pembacanya tentu saja lebih nyaman membawa di tas mereka dan ini berpengaruh pada kebiasaan membawa buku di tas dan membacanya kapan saja ada waktu.</p>
<p>Saya ingat kira-kira 6 tahun yang lalu seorang teman dari Belanda datang untuk berlibur dan dia membaca 6 buah buku (novel) untuk menemaninya selama di Indonesia.  Adapun saya yang punya kebiasaan membaca biasanya hanya membawa 1 buku di tas saya, atau 2 buku ketika saya harus pergi ke luar kota untuk alasan kerja.  Alasannya simpel saja,  2 buku sudah cukup memberi tambahan berat untuk backpack atau travel back saya.  Alhasil kadang-kadang di kota tempat saya berkunjung saya membeli buku baru dan tetap saja ujung-ujungnya saya pulang ke rumah dengan tambahan beban di pundak.</p>
<p>Intinya adalah, ketika orang memegang buku dan rasanya berat, akan muncul kesan susah duluan sehingga calon pembeli buku tidak merasa nyaman untuk membeli buku tersebut.  HIpotesis ini sudah saya coba dengan membandingkan berat buku impor vs buku lokal dari koleksi saya dan hasilnya memang hampir semua buku impor lebih ringan (dengan jumlah halaman yang sama).  Dan memang rata-rata menggunakan jenis kertas yang beda.</p>
<p>Para pembaca bisa coba menguji hipotesis saya ini.  DAn mungkin ini salah satu sebab mengapa masyarakat kita malas membawa-bawa buku dalam tas mereka.  Kalau sudah tidak ada buku, maka tinggallah kita bengong ketika sedang antri atau menunggu panggilan untuk apapun kegiatannya.</p>
<p>Salam&#8230;;)</p>
<br /><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/categories/alusi.wordpress.com/4/" /> <img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/tags/alusi.wordpress.com/4/" /> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/alusi.wordpress.com/4/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/alusi.wordpress.com/4/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/alusi.wordpress.com/4/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/alusi.wordpress.com/4/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/alusi.wordpress.com/4/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/alusi.wordpress.com/4/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/alusi.wordpress.com/4/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/alusi.wordpress.com/4/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/alusi.wordpress.com/4/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/alusi.wordpress.com/4/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/alusi.wordpress.com/4/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/alusi.wordpress.com/4/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/alusi.wordpress.com/4/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/alusi.wordpress.com/4/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=alusi.wordpress.com&amp;blog=3437082&amp;post=4&amp;subd=alusi&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://alusi.wordpress.com/2008/04/10/mengapa-kita-malas-membaca/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
	
		<media:content url="" medium="image">
			<media:title type="html">alusi</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Hello world!</title>
		<link>http://alusi.wordpress.com/2008/04/10/hello-world/</link>
		<comments>http://alusi.wordpress.com/2008/04/10/hello-world/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 10 Apr 2008 07:51:29 +0000</pubDate>
		<dc:creator>alusi</dc:creator>
				<category><![CDATA[Umum]]></category>

		<guid isPermaLink="false"></guid>
		<description><![CDATA[Welcome to WordPress.com. This is your first post. Edit or delete it and start blogging!<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=alusi.wordpress.com&amp;blog=3437082&amp;post=1&amp;subd=alusi&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Welcome to <a href="http://wordpress.com/">WordPress.com</a>. This is your first post. Edit or delete it and start blogging!</p>
<br /><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/categories/alusi.wordpress.com/1/" /> <img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/tags/alusi.wordpress.com/1/" /> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/alusi.wordpress.com/1/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/alusi.wordpress.com/1/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/alusi.wordpress.com/1/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/alusi.wordpress.com/1/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/alusi.wordpress.com/1/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/alusi.wordpress.com/1/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/alusi.wordpress.com/1/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/alusi.wordpress.com/1/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/alusi.wordpress.com/1/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/alusi.wordpress.com/1/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/alusi.wordpress.com/1/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/alusi.wordpress.com/1/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/alusi.wordpress.com/1/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/alusi.wordpress.com/1/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=alusi.wordpress.com&amp;blog=3437082&amp;post=1&amp;subd=alusi&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://alusi.wordpress.com/2008/04/10/hello-world/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
	
		<media:content url="" medium="image">
			<media:title type="html">alusi</media:title>
		</media:content>
	</item>
	</channel>
</rss>
